Author  :  uti3x

Pairing  : Haitsu (Hyde-Tetsu from Laruku)

Genre   : sweet, romance

Type      : Yaoi

Rating   : PG

Language : Bahasa

Summary    : Don’t blame me if i date you by phone!

Note           : I post this fic in Larcology forum too with  nickname hydeholic. yes, we are same person.

******************************

Aku melihat jam tanganku yang berwarna putih dan berdesain sporty itu dengan tatapan tidak percaya, tepat jam 12 siang dengan udara menusuk seperti ini yang aku yakin suhunya tidak lebih dari 10 derajat. Sungguh musim dingin yang kejam tahun ini. Hari inipun demikian, ada secercah tipis sinar matahari namun udara tetap menusuk tulang apalagi dengan berdiri di luar ruangan seperti sekarang ini. Kemudian aku melirik seorang lelaki yang berjarak beberapa langkah dariku.

“Hei…ha-chan!” aku memanggilnya asal dan dia menoleh.

“Nee?” rambutnya yang hitam sebahu bergoyang ringan saat menoleh padaku. biasanya rambut itu akan memperlihatkan lehernya yang jenjang tapi kali ini tidak karena dia memakai syal wool tebal. Ya musim dingin yang bahkan tak sanggup Hyde taklukan kali ini.

“Apa yang kamu lakukan disini?”

Dia tidak menjawab, seperti biasanya dia lakukan, malah mengeluarkan bungkus rokok dan mengambil satu ruas rokok putih kesukaannya itu kemudian berpaling lagi padaku.

“Leader-kun…mestinya aku yang bertanya. Kamu menguntitku?”

“Tidak. Aku memang mau pulang.”

“So go ahead.” Jawabnya cuek yang cukup mengagetkanku. Bahkan dua tahun tidak bertemu dia tetap saja bersikap begitu padaku. Tidakkah dia ingin menunjukkan kerinduannya dengan bersikap sedikit lebih manis?

“Masih marah karena penolakan di meeting tadi?”

“Iya.”

Aku mengernyit, tumben sekali orang ini blak-blakan. Pasti dia benar-benar kesal idenya kutolak tadi.

“Tapi kan aku menyetujui idemu untuk world tour.”

“Cih…seakan ide world tour itu memang murni milikku. Di dalam kepala kalian semua juga ada ide itu makanya kamu langsung main iya.”

“Haahhahahaha!” aku tidak dapat menahan tawaku. Sekali lagi dia lolos tesku. Aku sering bermain-main secara psikologis dengannya walau dia tidak pernah menyukai itu karena kadang membuatnya kelihatan bodoh.  Sekilas kulirik dia yang sama sekali tidak berminat tersenyum pada leluconku, bahkan seulas senyum sinis pun tak mau. Sepertinya aku tertawa cukup keras karena kurasakan badanku sedikit menghangat sekarang.

Hyde sendiri tidak memperdulikanku dengan tetap mengeluarkan pemantik apinya dan berusaha menyalakannya diantara hembusan angin dingin. Angin mempermainkan apinya hingga tangannya harus tertelangkup untuk melindungi rokoknya yang terselip kaku diantara bibir tipisnya itu. Bahkan rambut panjangnya ikut terjatuh menutupi lekuk sempurna wajahnya. Rambut halusnya yang sesaat tersibak oleh hembusan angin dingin dan terjatuh kembali membingkai rokok yang sudah sempurna mengepul.

Aku kemudian hanya dapat berdiri terdiam memandangi sosoknya yang mengepulkan asap rokok ke dinginnya udara bersalju pengabisan bulan Januari. Menawan dan tak terjangkau, bahkan olehku bertahun-tahun yang lalu saat kami masih menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Sayangnya itu berubah saat dia akan menikah. Kami bersepakat untuk saling menjauh dan perlahan melupakan kenyataan bahwa kami pernah terikat satu sama lain. Dulu itu begitu menyesakkan tapi kini setelah 10 tahun berlalu semuanya menjadi biasa saja. Ya, aku biasa-biasa saja.

Namun biasa saja bukan berarti aku berhenti mengaguminya.

Aku masih mengingat jelas rasanya saat kami berciuman dulu, bagaimana aromanya yang unik membiusku, dan butuh bertahun-tahun untuk menghapusnya. Lalu kini dia berdiri di sebelahku dengan rokok yang sudah menjadi trademark-nya itu, melebihi Ken, membiarkan kami berdua hening seperti orang bodoh karena dia lebih memilih menikmati rokoknya. Dulu aku akan mengomel tapi sekarang merindukan itu. Jadi aku rela menjadi penonton seperti sekarang ini. Lalu dia melihat sekeliling jangkuan mata hamparan halaman di depan kami sambil menyelipkan beberapa helai rambutnya yang terkena angin ke belakang telinga. Dia memang tidak suka mengikat rambutnya walau tidak ada kamera karena terlanjur terbiasa begitu.

“Kamu tidak jadi pulang?”

“….oh.” susah payah aku mengembalikan lidahku ke posisi semula apalagi sekarang dia mulai memandangku. “bukan pulang sebenarnya, aku masih banyak urusan.”

Kurasakan tatapan Hyde yang tajam seperti menyelidikiku lalu tiba-tiba dia mendekat ke arahku. Refleks aku menahan nafasku saat wajahnya hanya berjarak satu jengkal tangan dengan wajahku, yang berarti rokoknya benar-benar dekat dengan penciumanku. Hanya dalam beberapa kedip perutku mulai merespon bau yang seharusnya kubenci itu, mual merambat naik ke dadaku.

…dan tiba-tiba rasa hangat melingkupiku.

Hyde melingkarkan syal tebalnya di leherku dan melilitkannya hingga naik ke hidungku. Aroma tembakau itu berhenti menusuk hidungku dan berganti dengan kehangatan yang malah terasa asing bagiku. Dia tidak pernah terang-terangan menunjukkan afeksinya seperti ini.

“Jangan memakai pakaian trendi di cuaca tidak menyenangkan seperti ini.” Aku tahu apa yang dia sebut trendi barusan, coat panjang tidak terlalu tebal dengan syal tipis namun sebenarnya cukup hangat. Sejak dulu dia memang selalu mengomentari  seleraku itu apalagi jika kupakai hanya untuk datang internal meeting seperti ini.

“Hei…” tanganku menurunkan bagian syal yang menutupi mulutku agar bebas bicara.

“Pakailah dan jangan banyak bicara lagi. Aku pergi dulu.” Tiba-tiba saja Hyde berjalan mundur sambil menghardikku dengan ujung jarinya yang terselip rokok.

“Kamu mau kemana?!” Aku setengah berteriak karena dia sudah cukup jauh dariku.

“Aku masih ada pekerjaan dengan vampz!” teriak Hyde sambil membuka pintu sedan hitamnya dan kemudian melemparkan tas bahunya ke dalam mobil.

“Tapi ini?!”

“Jaa!” Hyde masih sempat melongokkan kepalanya dari jendela mobil untuk say goodbye denganku dan meninggalkanku begitu saja dengan tangan masih menggenggam ujung syalnya. Entah kenapa aku merasa seperti sepasang kekasih yang berpisah jalan setelah sang gentleman memberikan perhatiannya.

Aku hanya mengkhawatirkan kesehatannya juga, sebenarnya dia kan juga tidak terlalu tahan dingin. Lalu kutelan kembali semua kekhwatiran karena memang tidak ada gunanya. Dia memang begitu, tak tersentuh dan tidak mau disentuh olehku.

Aku kembali merapatkan syal itu hingga mulutku, tidak mau menyia-nyiakan kehangatan yang sudah  direlakan Hyde untukku. Memang benar-benar hangat. Entah memang bahannya benar-benar hangat atau pengaruh dari suasana hatiku yang gembira oleh perhatian seorang Hyde tadi. Entahlah. Bagaimanapun aku tak ingin memperdulikan hal ini karena aku masih punya banyak pekerjaan menantiku, sama sepertinya.

Masih dengan syal Hyde melilit leherku seharian hingga malam begini aku menjalankan mobilku dari satu tempat ke tempat lain yang merupakan tujuan pekerjaanku di luar band. Aku memang memiliki jiwa bermusik yang tinggi namun sayangnya bukan total, seperti Hyde, dan lebih memilih menggeluti bisnis investasi daripada berjuang untuk solo karir. Bukan  karena tidak mau berusaha tapi ini masalah ketertarikan. Sama seperti masa lalu dimana aku dan Hyde saling tertarik namun pada akhirnya kami berpisah karena ketertarikan itu kemudian menghilang.

“Aku pasrah kalau kamu memang ingin membubarkan band ini.”

“Kenapa? Karena masalah kita?” pertanyaanku dijawab oleh anggukan lemah Hyde. Aku membenci rasa bersalah yang tidak ada gunanya itu. “Tenang…aku membentuk band ini untuk mencari uang jadi aku tidak ingin ada masalah perasaan disini.”

“Kamu yakin kita akan bertahan?”

“Aku yakin 100 persen tapi aku tidak tahu bagaimana denganmu.”

Pembicaraan 10 tahun yang lalu itu terlintas dengan kurang ajarnya saat aku berhenti di lampu lalu lintas yang sama tempat dimana kami membicarakan itu di dalam mobil saat menunggu lampu merah. Waktu itu dia duduk di sebelahku dan menatapku dengan sorot mata bersalah. Menyalahkan perpisahan kami karena keegoisannya untuk menikah. Aku sendiri berpura-pura mengatakan jika aku juga sudah tidak mencintainya lagi padahal hatiku meradang perih saat mengatakannya, bahkan berminggu-minggu sejak itu aku terus dihantui mimpi buruk bahwa aku meninggalkannya dengan kejam. Maka aku benar-benar benci jika harus mengingat kembali hal itu seperti halnya sekarang ini. Rasa dingin menusuk tiba-tiba menyergapku, sambil merutuk aku menaikkan syalku hingga ke hidung dan tanpa sadar aku menghela nafasku dengan berat.

Lalu aroma itu terpapar telanjang oleh penciumanku.

Sedari tadi aku tidak menyadarinya karena pikiranku terfokus pada pekerjaan dan posisi syalku yang sebatas leher. Harum parfum dengan wangi dasar rempah maskulin yang segar. Itu wangi parfum Hyde yang kuketahui sejak kami berpisah hingga kini, sebelum itu Hyde memakai jenis wewangian lain yang lebih ceria seperti breeze bukan white musk  yang menggoda seperti sekarang. Namun yang tidak pernah berubah apapun itu selalu ada aroma tembakau yang menelusup kuat. Wangi tembakau itu menetapkan keunikan seorang Hyde yang tak ada duanya. Aku menyebutnya, aroma Hyde.

Aku menghirup dalam-dalam aroma itu sambil menjalankan mobilku pelan-pelan, menikmati setiap detiknya. Sekilas seperti bau musim semi yang riang namun kini bercampur dengan bau tembakau dan bau dinginnya salju. Cool dan misterius seperti dirinya. Susah payah aku menelan ludahku untuk meluncur dari tenggorokan bahkan aku harus disadarkan oleh klakson mobil di belakangku. Ternyata syal ini menyimpan aroma khas Hyde-ku. Aroma masa lalu yang kukenal, yang kucintai kemudian kulupakan.

Antara ingin dan tak ingin akhirnya tanganku berhenti dari niatan semula menurunkan kembali syal itu. Kupilih untuk menikmatinya, merasakan dia di dekatku hanya sebatas kulit dan kain. Sesuatu yang teramat lama dan langka terjadi. Tapi tak kusangka lama-lama aroma ini malah membuatku galau dan menyetir kegundahanku ke batas aman. Perasaanku mulai terjungkal saat aku melirik ponselku tanpa tujuan jelas, entah mengharap apa juga tak jelas. Hanya Tuhan yang tahu karena bahkan aku sendiri tak tahu.

Kini rasa kesal menghinggapiku tanpa permisi. Kesal pada ketidak jelasan diriku sendiri. Kesal terhadap syal pemberian terkutuk ini namun tidak mau melepasnya juga. Benar-benar menjengkelkan. Saking jengkelnya aku membanting setirku ke tepi jalan, mencari tempat parkir yang aman, kemudian berjalan menusuri pedestrian yang mulai sepi. Ini memang hampir tengah malam dan sialnya aku malah berkeliaran tidak jelas padahal jelas-jelas ada istriku menunggu di rumah.

Semua ini gara-gara dia!

Kusesap pelan kopi panas yang kudapat dari convenient store terdekat dari mobilku sambil bersandar di dinding luarnya, memainkan ponselku dengan gundah memuncak. Syal tebal masih membelit leherku namun aromanya sudah bercampur dengan kopi yang kupegang dekat hidungku. Lalu kuberanikan diriku menekan dialled number pertama pagi tadi.

“moshi-moshi.” Jawabannya lebih cepat dari dugaanku. Mungkin dia masih begadang dengan tumpukan kertas dan CD berserakan apalagi suaranya terdengar masih segar.

“moshi-moshi.” Jawabku ragu.

“Doushitano?”

“Nanimo nai.”

“…..”

“Hanya ingin dengar suaramu.”

“….kenapa? bertengkar dengan istrimu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu ingin mendengar suaraku setelah tadi siang kita baru saja ketemu?”

Aku ingin sekali menjawab, gara-gara syal sialanmu ini.

“Aku juga tidak tahu kenapa. Ingin saja.” Malah jawaban ini yang keluar namun aku tidak menyesalinya.

“Kamu ini laki-laki macam apa? Berselingkuh by phone dengan suami orang di jam seperti ini.”

“Kamu juga suami macam apa mau-maunya dirayu lelaki lain di jam seperti ini.”

“Kalau begitu aku tutup sekarang.” Hyde terkena pukulanku telak dan berpura-pura marah.

“Yameteyo!”

Aku berhasil menahannya untuk tidak memutus kontak karena aku tahu dia sebenarnya juga tidak ingin memutusnya. Aku sekarang ini pasti menyelamatkannya dari kebosanan mengerjakan deadline, begitupun dia yang menyelamatkanku dari kekalutan masa lalu. Seorang Hyde adalah masa laluku, saat ini maupun masa depan yang harus kuterima apa adanya. Dirinya yang suka bersikap ketus dan berlidah tajam padaku padahal tidak ke orang lain atau sisi lainnya yang mendengkur pelan di sebelahku saat berbagi kamar di perjalanan tour. Dirinya yang beroma musk bercampur tembakau tanpa pernah ada yang menyamai.

Hyde yang masih memikat dan mengikatku hingga kini.

Aku merapatkan coat dan syal-ku, membenamkan ponselku disana, masih dengan berbicara tidak tentu arah dengan Hyde. Terlibat pembicaraan tidak penting yang menyenangkan. Tenggelam diantara lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan pasangannya masing-masing. Aku pun sebenarnya bersama pasanganku seumur hidup.

Ah, mereka saja yang tidak tahu.

Ah tidak….bukan begitu….

Baguslah kalau mereka tidak tahu.

——- o.w.a.r.i ——–

For Cielers n Haitsu lover please drop comment…let me knows u ^.^

Iklan