Skyscraper.
One time, when the rain falls and pouring down the city
It hurts.
Is it dying feels like this?

…………..

Kamu berdiri di sana memandanginya dengan punggungnya yang melengkung lemah. Kemudian kamu berlari menghampiri dan terduduk keras di hadapannya, mengguncang bahu lemah itu sekeras mungkin. Tanganmu yang hangat menyentuh kulit dingin membeku dan basah itu. Titik-titik air hujan semakin memucatkan wajahnya dan membirukan bibirnya. Meluruhkan semua yang kau kenal semula, menjadi seseorang yang tak kau kenali lagi. Siapakah dia entahlah. Wajahnya begitu mirip dengan orang yang begitu mencintaimu, semuanya mendekati sama namun ada satu hal penting yang hilang. Life.

Hidup yang begitu dia cintai dan membuatmu mencintainya.

Entah menguap kemana.

Kamu tangkupkan kedua belah tanganmu ke wajah pucat itu, matamu mencari-cari sesuatu dalam matanya yang tidak juga berhasil kamu temukan. Seharusnya mata itu marah atau menangis atau menderita atau apapun namun kenyataannya mata itu menatapmu kosong. Manik hitamnya mematri pada dirimu namun tak ada bayangan siapapun di sana. Tidak ada gunanya saat ini kamu tertegun menelan semua keresahanmu.
“Demi Tuhan….kamu demam.”
Tatapan matanya tak berubah bahkan gelengan kepalanya yang lemah menyusul setelah sekian lama.
“Ayo kita masuk.”
Dia menggeleng lagi dan menepis tanganmu. Bukan dengan kasar namun jengah.
“Kamu masuklah…bajumu basah kuyup.”
“Berhentilah memikirkanku. Kamu demam.”
Kamu memaksanya berdiri, menyentak kasar lengannya hingga dia limbung dan nyaris terjatuh saat mencoba berdiri. Dengan cepat kedua tanganmu menyangga tubuhnya yang terhempas ke tubuhmu. Kepalanya bersarang nyaman di lekuk bahumu yang sepertinya tercipta untuknya. Rambut basahnya melekat di bajumu yang mulai basah dan nafasnya yang panas menyapu kulit lehermu yang masih hangat. Suara nafasnya yang tersengal menyulut kepanikanmu. Seharusnya tidak begini namun kamu tak berdaya. Apalagi kini dia menelusupkan tangannya di balik bajumu, mencoba mencari kehangatan dari kulitmu. Otakmu merespon kekagetan kulitmu atas dingin menusuk itu, menyentak kesadaranmu yang sempat hilang terserap oleh kekosongannya.
“Jangan masuk….jangan…kemana-mana…”
Ratapnya dingin dan kamu semakin tak berdaya bahkan kulitmu pun semakin dingin, mulai menyesuaikan diri dengan dirinya. Damn!
“Kita harus masuk….kamu demam.”
Kamu tetap akan mengulang kata-kata itu ratusan kali namun tetap tak sanggup menggerakkannya untuk masuk ke dalam. Dia akan tetap memaksamu mematung bersamanya dalam hujan gerimis. Bulir-bulir air terjatuh dari langit membasahi kalian tanpa ampun. Kemudian hening dan hanya ada suara riuh perkotaan di bawah kaki kalian, bahkan hujan pun tak bersuara.
“Aku tidak demam. Aku baik-baik saja.”
“Lihatlah kamu mulai mengigau kan.”
“Aku tidak mengigau….di dalam mimpi semuanya benar. Tidak ada yang salah.”
“Ini kenyataan.”
“Kamu salah…ini mimpi…”
Tiba-tiba kepalamu pening, dia berhasil mempermainkanmu. Seperti biasanya. Kamu tidak mempedulikan lagi tangannya yang semakin erat memeluk dan menjatuhkan beban tubuhnya padamu. Mulutnya kini tepat di sebelah telingamu, melancarkan mantranya yang menghipnotis kesadaran. Menekuk nalurimu.
“…tapi kamu disini, dipelukanku…itu artinya mimpi.”
Lidahmu kelu mendengar kalimat itu. Tidak bisakah dia menahan kalimat itu lebih lama lagi? Tidakkah dia tahu kalimat itu merobek jiwamu hingga ke dasar, mengoyak dan menghancurkan. Kenapa harus dirimu yang dia cintai? Jika dia adalah orang lain pasti semuanya akan jadi lebih mudah. Mungkin lebih mudah. Entahlah, kamu juga tidak yakin karena dunia ini terlampau aneh untuk dinalar. Tak heran dia lebih memilih tinggal dalam mimpi seperti ini.
Lalu samar-samar kau rasakan bibirnya tersenyum dan tangannya semakin erat memelukmu.
“Jika ini kenyataan kamu tidak akan disini menyelamatkanku. Kamu akan lebih memilih orang itu.”
“Terimalah….ini semua nyata. Kenyataan.”
Masih dalam samar-samar dia menggelengkan kepalanya. Lalu dirimu menyalak kembali dengan cepat.
“Jamku masih berdetak dan air hujan ini terasa sangat nyata…ini kenyataan.”
Lalu kamu rasakan dia kembali tersenyum, bahkan bisa melihat pandangan kosongnya yang tersembunyi di balik lehermu.
“Apa kamu ingat apa yang kamu lakukan sebelum datang kemari?”
Pertanyaan ringan itu berhasil mengusik kesadaranmu, mencoba mengingat apa yang kamu lakukan dan anehnya itu tidak berhasil. Otakmu melawan hebat karena aroma tubuhnya yang berbalut wangi hujan membius logikamu.
Apa yang kulakukan? Aku tadi selesai makan. Benarkah? Aku tadi sempat menelepon seseorang tapi siapa? Tunggu…aku tadi juga membeli beberapa barang di mini mart untuk seseorang tapi siapa? Lalu mobilku dimana? Bagaimana aku ke sini? Yang paling penting, kenapa aku bisa ada di sini?
“Percuma saja kamu berusaha mengingatnya. Badanmu sekarang tertidur di kamar kita. Telanjang dan suci.”
Kamu tertegun, begitu sulitnya menelan ludah yang berhenti di tengah kerongkongan. Sama seperti menelan kenyataan yang samar-samar ini. Lalu tiba-tiba kamu ingin memastikan dengan mencoba mengikuti permainannya. Menjadi gila.
“Kita? Memangnya apa hubunganku denganmu?”
Dia membelalak, ada segurat emosi di sana walau entah apa. “Sudah kubilang dari dulu, jangan berbohong padaku. Jangan pura-pura bodoh.”
“Aku tak mengenalmu.”
Bullshit. Lalu kenapa kamu di sini? Kamu itu mencariku kemana-mana hingga ke ujung dunia. Kamu pikir aku tidak tahu?”
Kamu terdiam dan menolak memandangi matanya meski ia mencari-cari manik matamu. Dia benar…dan selalu benar. Tak mungkin bagimu untuk berbohong, lebih tepatnya membohonginya. Bagaimanapun kalian pernah lebih lekat dari lapisan kulit.
“Aku adalah orang yang hampir mati mencintaimu,” dia kemudian berhenti sesaat dan memandangi lantai. “Hmm…sepertinya malah sudah mati. Masih orang yang sama…yang kau kenal selama ini.”
“Tapi…”
“Aku sudah ‘hidup’ disini lama sekali. Makanya tadi kamu tak menemukanku di sana kan?”
Dagunya mengendik ke arah jalanan di bawah gedung. Kamu menelan ludahmu kemudian. Menelan semua kalimatnya yang mulai kamu percayai. Kenyataannya dirimu memang mencarinya dan menemukannya disini dalam keadaan setengah mati setengah hidup setelah tiga bulan berkelana seperti orang gila.
“Hmmm….” Dia bersenandung pelan sekali, seperti sebuah desah nyaman setengah mengalun. “Kamu sudah menemukanku kan? Ayo kita pergi.”
Pergi? Bersama? Jangan harap! Kamu datang bukan untuk bersamanya, hidup maupun mati.
Kamu pun terkesiap dan mengingat kembali tugasmu. Memulangkannya ke dunia nyata. Hanya dia dan kemudian kamu harus pulang setelahnya. Pulang dengan membawa luka yang terpaksa menganga lagi oleh semua ini. Sebenarnya kamu bersumpah tak akan melihatnya lagi namun orang-orang itu memaksamu melakukan kegilaan ini. Semua demi hidupnya yang (katanya) telah kamu porak porandakan dan sialnya tak ada yang peduli dengan lukamu sendiri.
Hidup itu memang brengsek. Sebab bukan karena kamu brengsek lalu perasaanmu seenaknya saja tidak dihitung. Semua orang memikirkannya sedangkan namamu adalah aib. Diingat jika saat seperti ini saja.
Demi Tuhan! Itu sudah lama berlalu dan siapa yang memisahkanmu dengan dia jika bukan orang-orang itu! Orang yang sama dengan yang menyuruhmu untuk mencarinya. Kamu dan dia sudah bersepakat atas nama naifnya cinta, logika dan kebusukan dunia untuk selalu bersama. Berlari meninggalkan semuanya dan bahagia. Akirnya kalian memang menemukan kebahagiaan itu.
Sayangnya itu hanya sesaat sebelum orang-orang itu menemukan kalian. Memuntahkan segala sumpah serapah atas nama logika, ketuhanan dan sesuatu yang tak pernah kalian pahami. Memisahkan kalian dengan taruhan nyawa manusia tak berdosa. Kalian tetap tak memahami kenapa harus menuruti itu semua, terlebih lagi kamu yang seenaknya dicap sebagai penjahat. Menodai dan merusak hidup seorang manusia polos.
Kamu menelan semua itu bulat-bulat dan membiarkannya pergi daripada harus menebus dengan darah dan nafas. Lalu kamu dikatakan pengecut, mungkin berharap kamu mati bunuh diri saja agar tak ada yang harus menanggung dosa darah kotormu. Yang kamu tahu apapun yang kau lakukan adalah sampah. Orang hanya akan memandang pedang berlumuran darah di tanganmu tanpa mau tahu sesungguhnya alasannya untuk membunuh hewan liar yang mengancam nyawa belahan jiwamu.
“Ayo kita pergi,” ulangnya sambil menarik tanganmu mengikuti arah langkahnya yang tertatih menuju tepian pagar gedung.
“Kita akan pergi tapi tidak ke sana,” kamu mengambil alih arah dengan mudah karena tubuhnya yang sangat lemah.
“Tidak! Tidak ke sana.”
“Kenapa? Karena kamu tahu itu kenyataan?” tiba-tiba saja kamu merasa lelah dan mulai bersikap sinis. “Bukan tempat yang bisa membuat kita bersatu?”
“Bukan. Apa kamu bodoh? Apa kamu belum sadar dimana tempatmu sekarang?”
Dahimu pun mengernyit. Sumpahmu untuk tidak menghiraukan omongannya pun tak terbendung. Kini kamu memandangi dirinya yang semakin pucat dan sedikit basah oleh air hujan.
“Aku di sini untuk menyelamatkanmu. Hidupmu. Nyawamu yang nyaris tergadaikan itu.”
“Apa maksudmu?”
“Sudah kuduga kamu tak ingat karena kamu terlalu mencintaiku.” Berbeda dari tadi, kini matanya semakin tajam menembusmu. “Kamu membohongi diri dengan memilih dia. Kamu tidak sanggup bertahan….dan aku terpaksa menyeretmu ke sini.”
“Aku yang akan menyelamatkanmu!” kamu mulai gila sekarang.
“Memang. Dengan cara aku harus melewati pintu itu,” telunjuk terarah ke pintu satu-satunya penghubung rooftop ini ke bagian dalam gedung. “Tapi kemudian kamu akan hilang. Mati.”
“Bohong!”
“Jika kita diam di sini maka kita akan sama-sama lenyap.”
“Bohong!”
“Kamu hanya akan selamat jika aku melompat ke sana,” telunjuknya ganti mengarah ke garis cakrawala yang berhiaskan gedung-gedung muram.
“Bohong!” kali ini kamu meledak hebat. “Kenapa?”
“Aku tadi sudah memberitahumu kan,” dia mulai mendekatimu dan menyentuh dagumu, tangannya yang sedingin es menyapu lembut kulitmu. “Tubuh kita tertidur di kamar, telanjang dan suci.”
Kamu mulai mengingat lagi apa yang terjadi sebelum ini. Kamu mencari jawabannya di sekelilingmu dan kedalam matanya. Tapi sialnya kamu gagal. Tak sedetikpun memori yang tersimpan. Entah kenapa.
“Sudahlah. Kamu tidak akan bisa mengingatnya. Di sini ‘tamu’ memang datang dalam keadaan kosong.”
Lalu sebagian besar dirimu mempercayai kalimat itu. Kamu memandanginya yang mulai memiliki ekspresi meski tak bisa kamu terjemahkan artinya. Rambutnya berkibar ringan disapu angin yang memenuhi ruang diantara kalian selama beberapa saat. Lalu perlahan dia mendongakkan wajahnya ke langit.
“Jika kita tidak segera mengambil keputusan waktu tidak akan berjalan.”
Refleks kamu melihat jam tanganmu. Menungguinya beberapa detik dan tidak ada yang bergerak. Seketika kamu berpendapat mungkin jam itu memang rusak atau baterainya mendadak habis di saat tidak tepat seperti ini. Alhasil kamu semakin mempercayai semua ini.
“Tidak ada satu pun dari kita yang akan mati,” ucapmu dengan nada menusuk. “Di sini.”
Dia kemudian tersenyum dan menyelipkan rambutnya di balik telinga. “Kamu tidak pernah bisa mengaturku, remember that.”
Dalam sekali sentakan dia menubrukmu hinga nyaris terhuyung, memelukmu sekuat tenaga. Kamu tergagap namun perlahan menguasai diri. Tanganmu merengkuh tubuhnya yang makin kurus dari terakhir kalian bertemu. Perasaan hangat yang dulu pernah ada mulai kembali. Membangun memorimu sedikit demi sedikit.
Lalu semuanya terputus tiba-tiba.
Tanpa pernah kau duga dia melepas pelukannya atas dirimu, berlari tertatih menuju bibir atap gedung. Sesaat kamu mematung kaget namun dengan cepat menyadarinya, kakimu berlari cepat menyusul tubuh lemah itu dan menyentaknya kasar. Dia berontak namun kamu tidak menyerah, walo dipukul dan dicakar kamu tidak akan melepaskannya. Sekali lolos maka kematianlah jawabannya. Mungkin bagimu memang lebih baik dia mati tapi tidak begini caranya. Kamu tidak akan menerima perpisahan dengan cara ini, pasti masih ada cara lain yang lebih baik.
Kemudian dia berhenti bergerak.
Dia pingsan di dekapanmu.
Wajahnya yang pucat dengan mata yang terpejam penuh derita mendera hatimu yang sudah rapuh sejak tadi. Kamu sadar ada bulir hangat yang menuruni pipimu tapi kau menyangkalnya, tak ada yang perlu ditangisi karena tak ada gunanya. Dia akan tetap mencintaimu dengan segala kegilaannya dan kamu tidak mungkin memilihnya. Itulah kenyataan.
Kemudian kamu mencium bibir dingin itu lembut untuk terakhir kalinya.
Seketika rasa lega dan galau bercampur aduk dalam dirimu. Percaya dan tidak percaya yang dia katakan. Apakah ini memang mimpi atau kenyataan? Entahlah. Bagaimana pun kamu tetap tidak bisa mengingat apapun yang kamu lakukan sebelum kemari. Kemudian kamu melihat jam tanganmu, menempelkannya di telingamu. Memastikan.
Tik…
Tik…
Tik…
Bunyi yang biasanya menyebalkanmu itu kini bagaikan suara kehidupan. Eksistensimu bergantung pada suara itu. Badanmu juga perlahan mulai menghangat. Tentu saja, karena kamu telah terpisah darinya dan ini membuatmu semakin yakin. Setidaknya kamu punya alasan bahwa ini semua nyata walau hatimu tetap meragukannya.
Dia memang selalu membuatmu ragu terhadap dunia ini.
Kemudian matamu tertumbuk pada seseorang yang kaucintai terkulai layu di tanganmu. Kini otakmu menyusun rencana untuk mengembalikannya ke dalam. Menidurkannya diatas kasur empuk dan selimut hangat lalu menutup pintu kamarnya dengan lembut. Meninggalkannya dalam (yang kamu yakini) kedamaian. Lalu semuanya akan kembali seperti semula.
Semula yang seperti apa?
Tentunya yang tidak ada dirimu dan dirinya dalam satu jalinan kisah.
Ah…seandainya saja kamu bisa membeli mimpi untuk kalian.

+++++++over++++++++

Iklan