“James Bond: Everybody needs a hobby…
Silva: Whats yours?
James Bond: RESURRECTION…”

Bagi fans 007 mungkin film ini bisa menjadi film yang menarik atau malah “mengecewakan”, karena kali ini James Bond bisa dibilang tidak seperti layaknya “James Bond”. Menonton Mr.Bond di Skyfall ini mengingatkan saya pada Evelyn Salt. Terlihat kapabilitasnya yang paling mendasar dari seorang agen rahasia, hanya saja Bond ini tetap jauh lebih gemerlap dibandingkan Salt. So, saya harus berterimakasih pada Christoper Nolan karena Sam Mendes berani bikin James Bond yang seperti ini karena terinspirasi The Dark Knight.

Skyfall dibuka dengan aksi kejar-kejaran menegangkan di Istanbul, Turki, demi mendapatkan daftar nama seluruh agen rahasia di seluruh dunia yang dicuri. Namun Bond gagal karena tertembak hingga akhirnya memilih mengasingkan diri. Dia kemudian kembali bertugas setelah melihat markas MI6 diledakkan teroris. Lama menghilang, loyalitas Bond dipertanyakan M. Akhirnya Bond ditugaskan mencari dalang peledakan itu yang ternyata adalah Silva. Sosok nyeleneh dengan dendam kesumat hingga membuat Inggris kalang kabut. Ahasil Bond juga dibuat pontang-panting membekuk Silva.

Bisa dibilang saya kaget sepanjang nonton Skyfall karena tidak menyangka James Bond begitu tangguh, brutal dan total lusuh. Maklum imej saya soal Bond sangat flamboyan dan womanizer, bahkan hingga Casino Royale dan Quantum of Solace pun, tapi kali ini semua itu disingkirkan. Daniel Craig bisa menghadirkan sosok James Bond yang memiliki banyak luka fisik dan psikis, sempat jadi pengecut dan badannya tidak sekuat dulu….katakan saja sebagai sosok yang lebih manusiawi.

Namun di saat bersamaan Mendes juga tidak banyak merubah DNA Bond seperti hadirnya Bond Girl. Bérénice Marlohe berhasil memainkan Sévérine yang misterius dan eksotis. Tapi rasa-rasanya the truly bond girl di Skyfall ini adalah M. Kali ini dia dapat screentime terbanyak dalam sejarah partisipasinya sebanyak 7 kali di franchise Bond. Sedangkan Eve (Naomi Harris) juga begitu mencuri perhatian. Saya pribadi lebih suka Eve yang chemistry-nya dengan Bond sangat kuat dan “seksi”, terutama pas adegan cukur. Eve juga memberikan kejutan sama seperti saat penonton melihat ending kisah John Blake yang ternyata adalah Robin.
Di berbagai ulasan mungkin menyebutkan film ini menceritakan James Bond yang kesetiaannya diuji M (Judi Dench) tapi menurutku malah bukan itu. Bond lah yang sempat sangsi dengan M, itu terlihat jelas saat M memberikan info detil tentang Silva (Javier Bardem) tanpa diminta. Sebelumnya Bond memang dibrain-wash oleh Silva bahwa M mengumpankannya. Untunglah Bond kembali percaya M dan melindunginya mati-matian hingga titik darah penghabisan. Ikatan mereka berdua juga ditampilkan dengan lebih kuat melalui kisah masa lalu Bond di Skotlandia.

Selain Bond Girl tentunya keberadaan penjahat juga krusial. Tokoh antagonis yang harus dihadapi Mr.Bond kali ini adalah penjahat psycho bernama Roul Silva yang memiliki armada kuat dan kemampuan hacking tingkat dewa. Silva juga menunjukkan sisi manusiawi di film ini. Dia memberikan alasan lebih personal, bukan sekedar motivasi menguasai dunia, untuk melakukan kejahatan. Karena memang pada realitanya kejahatan yang luar biasa malah dilatarbelakangi hal personal seperti sakit hati atau masa lalu buruk.

Javier Bardem pantas diacungi banyak jempol untuk memerankan Silva. Sebenarnya saya kesulitan menggambarkan kesan Silva karena dia itu unik dan terlihat tidak berbahaya tapi juga bukan yang manis. Mungkin paling mudah mengibaratkan Silva sebagai versi kalem Joker-nya Heath Ledger. Joker itu vilain yang sangat dramatis dan teaterikal sedangkan Silva seperti orang pada umumnya, terlihat tidak berbahaya. Gayanya yang kemayu dengan wajah aneh dan rambut konyol tidak mengurangi ketegangan saat dia beraksi, malah memberikan style unik seorang Silva. Tampaknya kata “mommy” akan menjadi ciri khas humornya yang cerdas sekaligus witty itu, layaknya “why u so serious?” milik Joker. Fans Bond mungkin juga akan sangat mengenang bagaimana Silva begitu mesranya memperlakukan Bond yang terikat di kursi, sesuatu yang tidak dijumpai di franchise lainnya.

Untuk soundtracknya saya rela beri nilai 10 dari 10. Salut buat Adele, sangat cocok mulai dari isi lirik hingga musiknya. Sebelum nonton saya merasa musiknya terlalu gelap dan megah tapi begitu dimasukkan ke dalam film hasilnya kuat sekali. Tidak hanya memperkuat efek tapi juga seperti ikut bernarasi. Selain itu video openingnya juga bagus, seperti video klip sungguhan.

Saya juga suka dengan pemilihan lokasinya yang cakep-cakep terutama scene Shanghai. Paling memukau saya pribadi saat Bond membunuh Patrice di skyscraper Shanghai. Pantulan wani-warni di kaca terlihat mystical tapi modern. Adegan kejar-kejaran di atap pemukiman di Istanbul juga bikin saya melongo. Tapi yang paling jaw dropping buat saia adalah begitu banyaknya mobil yang dihancurkan, asli deh saya teriak-teriak pas Aston Martin DB5 diledakkan. Pantes aja kemarahan Bond langsung klimaks saat melihatnya.

Seperti biasa, karya besar pun pasti punya cela begitupun Skyfall. Menurutku Mendes kurang memperdalam masa-masa Bond “enjoy death”. Bukan masalah jumlah scene tapi kedalaman ceritanya, jadi kebangkitannya kurang menggigit. Itu sama seperti Mendes kurang mengulik kecerdasan dan kelicikan Silva. Jauh berbeda dengan Nolan yang bisa menampilkan keterpurukan Bruce Wayne dan liciknya Joker dalam sekali lirik. But overall Mendes piawai menggabungkan unsur klasik dengan cita rasa modern berhasil memikat fans lama maupun penonton baru (seperti saya).

Pada akhirnya Skyfall ini merupakan titik baru bagi film James Bond kedepannya, ditandai dengan kehadiran Ralph Fiennes dan regenerasi para karakter. Film untuk merayakan ultah ke-50 franchise James Bond ini benar-benar menghibur dari segi sinematografi, sekuen-sekuen action menegangkan, akting jajaran pemainnya dan isi ceritanya yang dalam. Tidak lupa gaya humor khas Bond yang sarkas namun penuh makna dan juga lucu bertebaran di seluruh film. Favorit saya soal guyonan adalah Q (Ben Whishaw)dengan Bond, they are so funny! Terutama adegan dimana Bond kaget cuma dibekali 1 pistol dan 1 radio pemancar sinyal untuk bertugas. Dengan santainya sdikit sinis Q bilang “Kamu berharap dapat pen yang bisa meledak? Jaman sekarang kami tidak membuat barang seperti itu lagi”.

Yup, pada akhirnya “the old way is the best way”.

Iklan