Gambar

 

Pi Patel: Faith is a house with many rooms.

Writer: But no room for doubt?

Pi Patel: Oh plenty, on every floor. Doubt is useful, it keeps faith a living thing. After all, you cannot know the strength of your faith until it is tested.

“Life of Pi” bisa dibilang sebagai satu-satunya film yang saia tonton modal nekat karena tergoda trailer. Biasanya saia sangat picky untuk urusan nonton di bioskop tapi baru kali ini langsung berangkat ga peduli ga kenal satupun pemainnya maupun ceritanya dan hanya bermodal seneng warna laut kala senja yang dihadirkan di trailernya. Tapi sungguh saia tak menyesal! Buat pecinta warna seperti saia film ini adalah surga.



Ang Lee memang selalu bisa menghadirkan kejutan yang bikin jaw dropping, begitu pun dengan Life of Pi. Sepanjang film saia dibuat menganga dan terpana melihat warna-warna cantik yang rasanya seperti berada diantara dunia nyata dan imajinasi.Warna yang sesekali begitu menenangkan jiwa tapi juga kadang fantastis nan megah. Gara-gara itu jadi sempet agak nyesel kenapa ga nonton yang 3D.

Sebelumnya maaf rada-rada spoiler di akhir cerita. Saia terpaksa nyinggung spoiler karena “gatel” dengan banyaknya pertanyaan di kepala. Saia juga mikir novelnya sudah lama beredar jadi kemungkinan besar pasti udah tahu endingnya. Tapi saia sendiri sedang membacanya, lebih tepatnya membeli novelnya karena terpesona filmnya.

Cerita film itu berpusat pada Piscine Molitor Patel yang namanya diambil dari kolam renang di Perancis. Piscine ini kemudian lebih dikenal dengan panggilan Pi (baca: Pai) yang ayahnya memiliki kebun binatang. Keluarganya kemudian memutuskan untuk pindah dari India ke Kanada dengan menumpang kapal kargo. Karena badai akhirnya kapal itu karam. Dari situlah petualangan Pi berjuang bertahan hidup di tengah samudera Pasifik dimulai.

Sekoci putih itu dihuni Pi bersama zebra, hyena, orangutan dan harimau Bengal bernama Richard Parker. Semua berjuang untuk bertahan hidup hingga akhirnya tersisa 2 makhluk dari spesies bertolak belakang. Manusia lugu yang penuh rasa kasihan dan harimau buas. Perjuangan untuk hidup beriringan terasa luar biasa berat, hubungan Pi dan Richard Parker pun menjadi sangat kompleks.

Untuk para penonton yang tidak menggeluti komunikasi, semiotika, psikologi ataupun filsafat maka berbahagialah! Bagi yang familiar dengan bahasa simbol bisa dipastikan gak bisa nyantai selama nonton. Otak saia terus memproduksi makna, yang ternyata jawabannya sudah ada di ending. Meski sudah ada jawaban jelas namun masih ada jutaan kemungkinan lainnya. Ya, film ini sangat kompleks karena menceritakan manusia. Semua yang dibahas di sini adalah hal-hal dasar yang membentuk manusia sebagai makhluk berakal.

Menonton Life of Pi itu sejatinya seperti membaca buku filosofi tapi dengan kemasan sederhana yang mudah dimengerti. Ang Lee jago banget dalam menerjemahkan tema agama,  filosofi dan universe menjadi lebih manusiawi. Bahkan katanya Ang Lee lebih bagus menerjemahkan dari buku karya Yann Martel ini. Hebatnya lagi sisipan dialog-dialog lucu hadir dengan sangat pas. Itu kadang terselip cerdas di pembicaraan berat, kadang mewarnai keluguan Pi kecil dan sarkasnya Pi dewasa dan ampuh menurunkan tensi film yang rapat saat seru-serunya bertahan hidup di samudra pasifik. Favoritnya saia adalah quote saat kelurga Patel membicarakan masalah pindah ke Kanada.

Pi’s Father : We are going to Canada, like Colombus!

Pi: But Columbus was looking for India!

Sepanjang film kening penonton tidak dibuat berkerut sama sekali sehingga tak heran twist di akhir film terasa bagaikan tamparan di pipi. Siapa yang menyangka itu semua hanya metafora? Saia pikir muka saia saat itu pasti sama bengongnya dengan tokoh penulis yang mewawancarai Pi dewasa. Kalo kata temen di Twitter, “Gue langsung lempar bukunya pas baca ending tapi gue ambil lagi buat ngerunut dari awal”. Sialnya itu benar! Siapapun pasti akan kembali berpikir “Eh apa aja ya yang terjadi tadi?” Jadi  pastikan Anda tidak melewatkan satupun bagian cerita. Jangan seperti saia yang terpaksa kehilangan momen Richard Parker tidur di pangkuan Pi gara-gara ga tahan buat ke toilet…hehehe.

Lalu apakah kalian sudah punya jawabannya?
Mana yang kamu percaya? Cerita pertama atau kedua?

Iklan