mitty
Lama ga ngeblog. Serius lama banget kan yak *lirik postingan terakhir*. Akhirnya gatel ngeblog setelah nonton film “Secret Life of Walter Mitty”. Inilah film kedua setelah “Life of Pi” yang kutonton gegara ngiler liat trailernya yang mempesona macem video klip.

….dan ternyata saia nggak rugi.

Filmnya beneran mempesona!

Tadinya sih masih agak ragu setelah nonton trailernya. Berasa gak yakin aja Ben Stiller dengan muka serius dan sinopsis cerita yang agak-agaknya membosankan. Tapi untunglah temen sekantor udah nonton dan begitu pintar mempromosikannya jadilah saia nekat berangkat nonton sepulang kerja. Bahkan teman saia itu sampe nemenin lagi karena saking ketagihannya ama ini film.

Setelah nonton aku jadi tahu apa yang membuatnya ketagihan.
Buatku pribadi sih bukan jadi ikutan ketagihan nonton lagi, tapi lebih ke “membekas” di hati. This movie give me a strong impression, bold but fresh and has deep meaning to ask again about what we do in our life. YOLO (you only live once).

Film ini tentang majalah LIFE yang mengalami transisi dari media cetak akan berubah jadi online. Bagi yang belum tahu, LIFE adalah majalah jadul sekelas Natgeo yang memiliki keistimewaan di foto jurnalistiknya. Nah, karena diakuisisi akhirnya ada pemecatan karyawan yang dianggap tak perlu,  termasuk posisi Walter Mitty (Ben Stiller) sebagai ahli negatif film. Untuk edisi terakhir, fotografer andalan LIFE, Sean O’Connel (Sean Penn), meminta secara khusus klise nomor 25 untuk dijadikan sampul. Sialnya, klise nomor itu tidak ada dan mulailah Walter pontang-panting mencarinya hingga lintas negara.

Menariknya, Walter ini adalah pria berusia 40-an yang payah karena pemalu dan pasif dalam bersosialisasi meski hebat di pekerjaannya. Naksir teman sekantor, Cheryl Melhoff, tidak berani menegur duluan dan selalu dibully pegawai lainnya karena sering melamun. Ketidakpercayaan diri membuat Walter selalu melamun membayangkan dirinya orang yang memiliki kekuatan super, pemberani dan suka memacu adrenalin, namun kenyataannya adalah looser. Petualangannya mencari Sean hanya untuk bertanya “dimana klise nomor 25 itu?” membawanya mengalami hal-hal yang dulu hanya ada di alam lamunannya.

Dari segi akting sih tak ada yang menonjol sekali, semua biasa saja karena memang cerita sehari-hari, tapi karena biasa itu akhirnya malah terasa dekat. Saia suka dengan Kristen Wiig memerankan Cheryl. Aku benar-benar merasa dia wanita yang sangat cantik padahal selalu memakai pakaian biasa dan makeup natural. Kristen berhasil menggambarkan bahwa wanita cantik itu yang menyenangkan dan tampil apa adanya, tanpa tendensi saat mengobrol dan memiliki selera humor bagus.

Paling memberikan kesan untukku sih Sean Penn. Sungguh ya kalau aktor kelas Oscar itu memang beda kualitas aktingnya. Awalnya aku tidak mengenali itu Sean Penn! Walau tampil hanya beberapa menit namun dia bisa menunjukkan ciri khas fotografer petualang yang idealis. Aku masih geli mengingat ucapannya ke Walter yang kesal kenapa tidak memberitahukan sejak awal padanya dimana klise itu berada, Sean malah bilang “I think it’s cute way” dengan wajah gak berdosa. Sean menunjukkan rasa hormat dan terimakasihnya pada Walter dengan caranya sendiri, cara khas petualang yang suka-suka dia tanpa mikir resiko ke depan. Bahkan dia lebih sedih hadiahnya dibuang daripada kehilangan klise no.25 yang disebutnya sebagai foto “intisari kehidupan”.

Jadi menonton “Secret Life of Walter Mitty” itu lebih ke ngaca, apa yang sudah lo lakuin dalam hidup? Bahwa yang penting dalam hidup itu bukan tujuannya tapi proses untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu yang kusukai dari film ini adalah bukan ideal yang manis. Walter begitu berjuang keras namun tidak selalu terbayar dengan hasil manis. Klise no.25 itu tetap ketemu (dengan cara tak terduga yang bikin gemes) tapi toh Walter tetap dipecat. Tapi dia bisa mengambil hikmahnya, menjadi lebih pemberani dan percaya diri 🙂

Adegan favoritku…sebenarnya gak bisa dibilang spesial tapi entah kenapa pas scene itu bisa membuatku menahan nafas. Saat Walter memutuskan melompat ke dalam helikopter yang dikemudikan orang teler. Bagiku itu adalah titik balik dimana Walter benar-benar membuang semua ketakutannya dan fokus mencari tujuannya meski hingga ke ujung dunia. Seorang pegawai kantor yang duduk di ruang gelap terisolir dari pegawai lainnya selama 16 tahun tiba-tiba memutuskan menantang bahaya dari negara ke negara lain sendirian demi selembar foto, jelas itu hal yang luar biasa! Adegan Walter mencengkeram pegangan kursi di dalam heli diiringi lagu -entah siapa itu aku belum cari tau- benar-benar epic.

Untuk keseluruhan adegannya benar-benar indah, artistik. Kurasa Ben Stiller penyuka fotografi melihat gaya anglenya yang berasa “foto banget” dan warna-warna solid tapi pas, penyampaian emosinya pas. Paling terkagum-kagum melihat pemandangan Greenland yang clean. Lucu memang tapi ternyata benar, orang Greenland menggeleng saat bilang “iya”…hahaha. Perhatikan saja saat Walter ngobrol dengan awak kapal di tengah laut.

Untuk quote sebenarnya banyak kalimat bagus tapi cuma ada dua yang benar-benar menamparku *halah*. Pertama adalah ucapan Sean ketika menunggui macan gunung salju, yang juga pertemuannya dengan Walter, di Himalaya. Dia mengatakan tidak selalu mengabadikan setiap momen langka karena kadang lebih memilih menikmatinya sendiri dan melekatkan dalam memorinya, “Beautiful things don’t ask for attention”. Aku tidak bisa menjelaskannya tapi memahaminya, apalagi dilihat dari sudut seorang fotografer, karena aku juga sering mengalami hal seperti itu saat menemukan obyek menarik.

Kedua, saat Walter menjual piano kesayangan ibunya. Piano itu tadinya mati-matian dipertahankan Walter dan adiknya karena benda peninggalan ayah mereka yang dibeli saat menikah. Namun kondisi ekonomi Walter pasca dipecat membuat mereka harus menjualnya dan itu membuat Walter merasa bersalah, tapi ibunya hanya bilang “We all grown, we will fine”.

Catatannya sih hanya satu, kalau gak suka fotografi atau pemandangan indah bisa dipastikan akan bosan. Karena memang sepanjang film isinya bak menonton slide demi slide foto pemandangan indah dengan dialog sehari-hari yang bisa jadi membosankan untuk ditonton. Tapi bagi pecinta fotografi wajib nonton! Nanti bisa ngiler lihat kamera Nikon F3T dengan lensa super panjang yang dibawa Sean atau terkenang masa lalu melihat klise foto dengan tulisan Kodak beserta nomor foto *teringat masa-masa kelas fotografi dasar*.

Oh, satu lagi!
Ben Stiller asli ganteng banget!! Hehehehe….