sea-fog-affiche(poster “Haemoo” untuk pemutaran di Perancis)

Akhirnya saya menonton “Sea Fog” alias “Haemoo” untuk judul pasar internasional.

(btw, saya lebih suka menyebutnya “Haemoo” karena lebih mudah diucapkan dan unik)

Saya bilang “akhirnya” karena memang sebuah hal tak terduga. Awalnya sama sekali tidak berniat nonton sejak tahu itu film genre kelas festival meski saya ini ultimate bias-nya Yoochun. Pengalaman tak menyenangkan dengan film-film Korea kelas festival bikin saya hilang selera. Alhasil 3 bulan sejak rilis saya tak meliriknya hingga semua berubah ketika Yoochun menang 3 award best newcomer dari “Sea Fog”. Rasa kepo memuncak ketika dia menyingkirkan Yeo Jin Goo dan Siwan yang begitu dijagokan publik di Grand Bell Awards 2014. Tapi hati baru benar-benar tergerak nonton ketika liat fancam cuplikan adegannya di penghargaan asosiasi kritikus film. Just simple, karena saya gak mengenali sosok Yoochun di cuplikan itu.

Walhasil, itu film yang udah 3 minggu nganggur di meja kujamah juga buat diperawani lepiku.

kuanggurin karena belum siap mental nonton bed scene Yoochun.

…dan setelah menonton saya merasa silly selama ini gak siap mental karena sex scene (it’s not bed because they lay on the floor) padahal malah menemukan berbagai adegan lebih disturbing daripada itu!

“Disturbing” itu terlalu kasar sebenarnya, tapi bagi standar seorang shipper maka itu kata yang paling pas mewakili perasaanku.

Oke, saya akan mulai untuk review dulu. Walau gak janji tapi diusahakan tanpa spoiler berhubung filmnya belum berusia setahun. Mari dimulai dari garis besar ceritanya (yang paling-paling ada di wiki tapi suer saya gak copas). Harap diingat tulisan ini akan sangat panjang.


BBF8ACF5AC1CC2A4D2F85

Kisah dibuka dengan kapten kapal Jeonjinho, Cheol Joo (Kim Yoon Seok), yang berusaha menyelamatkan mata pencariannya dari krisis moneter akhir ’90-an, senasib ama Indonesia lah (settingnya awal 2000). Demi memperbaiki nasib akhirnya dia nekat menerima pekerjaan menyelundupkan imigran ilegal dari Cina untuk masuk Korea tanpa memberitahu kru kapalnya. Sebagai anak buah, 5 kru hanya bisa manut apa kata kapten termasuk si maknae bernama Dong Shik (Yoochun). Semua berjalan mulus hingga 25 imigran berpindah ke kapal di tengah laut di malam hujan badai. Masalah datang saat paginya ada patroli laut lewat. Satu kali bisa lolos tapi tidak ketika yang kedua kali.

Kapten pun memutuskan menyembunyikan ke-24 imigran itu ke dalam tangki penyimpanan ikan saat diinspeksi.

Saya gak salah nulis, memang hanya 24 karena yang satu disembunyikan oleh Dong Shik di ruang mesin yaitu Hong Mae (Han Yeri). Kenapa disembunyiin? Karena Dong Shik naksir sejak menyelamatkannya jatuh ke laut di malam pemindahan para imigran. Perhatian kecilnya untuk membuat Hong Mae bisa istirahat nyaman itu ternyata malah mengundang petaka lebih besar.

Hong Mae akhirnya melihat ke-24 imigran itu mati di dalam tangki karena keracunan gas yang bocor dari mesin pendingin ikan. Petaka datang ketika Hong Mae menjadi satu-satunya orang asing yang melihat bagaimana cara seluruh kru kapal “menangani” semua mayat itu. Chaos pun terjadi karena ada 6 kepentingan yang bersinggungan dalam mengincar nyawa Hong Mae agar insiden itu tak terkuak ke publik.

7100e86373da2a5b69c0bd2c896b6ab9


Gak spoiler kan? Hehehe…

Oke, awalnya saya mengira Yoochun hanyalah salah satu peran pembantu. Ya, katakanlah seperti Changmin di “Fly with the Gold” yang ketika perannya mati tidak mempengaruhi nasib tokoh utama. Ternyata saya terjebak sinopsis kasar “Sea Fog”!

Yoochun eh Dong Shik bisa saya katakan sebagai sentral “Sea Fog”. Ya, film itu bercerita tentang dia. Mulai dari eksistensinya yang mempengaruhi seluruh kru kapal, respon sebab akibat tragedi hingga jatah kameranya yang nyaris seluruh film, bahkan klimaksnya pun ya tentang Dong Shik. Terlihat sekali para aktor senior itu “hanya” membantu Dong Shik agar karakternya semakin subtle dalam jalinan cerita.

Lalu sebagus apa sih Yoochun mainnya kok sampai semua award newcomer tahun ini dibabat habis sama dia?

Sejauh ini saya nonton 4 drama dari total 5 yang dimainkannya, saya bilang inilah yang terbaik. Kelasnya berbeda. Di drama sudah sangat bagus untuk ukuran idol turn into actor, tapi di “Sea Fog” ini aktingnya di atas itu semua. Kalau hemat saya sih aktingnya “matang”, mengingatkan saya pada Kang Dong Won.
061
Pastinya saya salut dengan totalitasnya jadi Dong Shik. Yoochun mengubah semua aspek hingga yang terkecil menjadi diri orang lain. Dari caranya jalan dan menggerakkan badan saat bicara saja sudah bisa ditebak Dong Shik itu wong ndeso, lugu dan penurut. Bahkan di awal-awal film saya merasa dia itu “Cute” dengan segala keluguannya. Apalagi terlihat semua kru kapal sangat menyayanginya dengan dikit-dikit memanggilnya atau menanyakan keberadaannya. Dong Shik sendiri sangat penurut, apapun yang diperintahkan ya pasti dijalankannya.

Tapi yang paling memukauku adalah….Dong Shik ngomong pakai logat Joella.

Saya hapal di luar kepala suara Yoochun bicara beserta aksennya yang standar Seoul. Tapi Dong Shik ngomongnya sudah sama persis Yunho kalo lagi pamer logat Joella-nya. Entah karena logat atau bukan, saya merasa suara Yoochun juga tidak se-ngebass dan se-serak biasanya di “Haemoo” ini.

Selain itu katanya sih dia juga sampai naikin berat badan 10 kg. Emang chubby banget sih liat Dong Shik, apalagi dari samping dengan tengkuk dan leher tebal. Dan jangan harap menemukan Yoochun si milky skin with amazing smile. Dong Shik ini kumelnya minta ampun, kumuhnya setara tukang habis mbengkel seminggu dan gak mandi. Kadang kumelnya itu cukup mengangguku saat nonton, bukan karena gak ganteng tapi karena seluruh kru kumelnya tingkat maksimal.

Itu dari segi karakter, mari geser ke adegan yang bikin terkenang-kenang. Semoga gak spoiler yeeee. But i’m not sorry if i spoil some rice here.

Jika pada menebak sex scene aka melantai berdua maka itu salah total. Semula saya mengira begitu. Bok…sebagai fans sejak jaman dia hampir tewas ngedance atau tercekik di “Bolero” dan tak pernah topless depan kamera ketika si maknae aja pamer perut maka tentunya sex scene adalah semacam granat. Tapi mungkin karena udah beberapa kali liat adegan ciumannya di drama dan gak jeles jadi ini pun demikian. Gimana bisa jeles juga wong adegannya dilakuin sambil nangis. Pantesan dia bilang habis take adegan itu gak bisa berhenti nangis. Adegannya juga gak vulgar kok karena cuman di-syut badan atas dan eksekusinya artisitik. Malah saya paling suka saat Dong Shik melepas sepatu Hong Mae setelah lepas baju.

Yang paling terkenang bagi saya hingga beberapa hari setelah nonton adalah ketika Dong Shik membawa pisau daging karatan (orang jawa nyebutnya bendo) dan menyabetkannya sepenuh jiwa raga ke kru kapal lainnya.

Haish! Saya tak pernah membayangkan sosok Yoochun dengan kiddo smile dan imejnya sebagai pria romantis itu menjadi so violent. He yell, kicking, punching and stabbing wholeheartedly man! Jadi walaupun saya udah khatam “The Raid” 2 biji dan “Kill Bill” tapi tetap saja itu menganggu! Sampai-sampai saya merasa ditipu oleh sinopsisnya. Lha Yoochun juga gak pernah menyenggol bagian itu selama masa promosi (atau gue aja yang missing).

(Ya kali tik gimana mau dibocorin wong itu klimaksnya)

Eh, saya spoiler ya? Hihihihi~~

Overall sih saya suka dengan film ini. Eksekusinya lebih clear jadi penonton bisa memahami dengan jelas dan tegangnya dapet banget dibanding film festival pada umumnya. Sayangnya sih gak ada shoot panorama atau yang lebih wide memperlihatkan seluruh kapal, paling hanya 2-3 adegan. Jadi dramatisnya agak kurang, atau mungkin disengaja begitu biar kesannya real karena memang sepanjang nonton saya mendapatkan kesan real itu.

Akting semua pemainnya jelas bagus namanya juga aktor veteran. Sebagai “maknae”, Yoochun bisa mengimbangi akting mereka. Gak rugi lah mengisolasi diri berbulan-bulan sampai main “Three Days” masih kebawa Dong Shik. Perubahannya dari cowok 26 tahun yang lugu menjadi “terpaksa” kejam juga bisa dibedakan tapi tetep mulus. Tapi saya kurang puas sama pengambilan gambar adegan itu, kurang manteb aja lah.

Oh iya, secara kedalaman psikologis karakternya juga kurang. Ini tentang terapung di tengah lautan dan hanya ada pilihan membunuh atau dibunuh tapi kesannya enteng. Kesan ketakutan setengah mati untuk mempertahankan hidup kurang tersampaikan.
543c2fa4e087a_HAEMOO_Key Still (8)
Di luar kekurangan dan mengingat kelebihannya, saia tetep bisa enjoy nonton “Haemoo”. Recommended kok apalagi untuk yang suka thriller. Tapi ingatlah bahwa ini bukan film menawarkan pemeran enak dipandang mata, bahkan yang ganteng saja rela diperjelek.

Ya tidak heran “Sea Fog” masuk seleksi Oscar dan Golden Globe Award untuk foreign film perwakilan Korea. Good luck!

….tapi tetep saya akan mendahulukan mendoakan “The Raid” sih.

1502620_10152773665128703_7169671709985873531_othis is my favorite Dong Shik still in “Haemoo”

Iklan